Penderitaan dan Peradaban

Lebih dari enam botol bir menemani percakapan kami. Sudah hampir semalam suntuk, kami berbincang. Kawan saya, yang berasal dari Jerman, bercerita, bagaimana ia terjebak di dalam cinta segita: jatuh cinta dengan orang yang sudah menikah, dan bahkan punya anak. Kisahnya penuh derita, mirip telenovela, namun nyata.

Sejenak, saya bertanya, “Mengapa kamu tidak pergi, dan melanjutkan hidupmu?” Pertanyaan tersebut tampak menghentaknya. Setitik air mata terlihat menggenang, entah karena sedih, atau karena alkohol. Setelah terdiam sesaat, ia menjawab, “Saya mencintainya. Semua penderitaan yang saya rasakan akan terbayar, jika saya bisa bersamanya. Saya akan terus berjuang, walaupun luka dan derita datang menghadang.”

Penderitaan dan Eropa

Jawaban itu tidak mengherankan buat saya. Orang-orang Eropa memang memiliki latar belakang yang unik di dalam menghadapi penderitaan. Julian Nida-Rümelin, filsuf politik asal München, berulang kali menegaskan, bahwa akar peradaban Eropa adalah peradaban Yunani dan Romawi Kuno. Sikap mereka di dalam menghadapi penderitaan juga berakar pada pandangan dua peradaban tua tersebut.

Peradaban Yunani adalah peradaban yang memuja sikap kepahlawanan. Ada banyak cerita tragedi yang berkembang di dalam peradaban ini. Semua kiranya bertema satu hal, bahwa hidup penuh ketidakadilan dan penderitaan, namun manusia harus menghadapi semuanya dengan keberanian, ketulusan dan sikap pantang menyerah. Sikap itulah yang kiranya muncul di dalam diri kawan saya, ketika ia tenggelam di dalam derita cinta segitiga.

Di dalam tradisi Filsafat Eropa, sikap kepahlawanan ini direnungkan secara mendalam di dalam pemikiran Albert Camus, filsuf Prancis. Ia berpendapat, bahwa hidup manusia itu, pada dasarnya, absurd. Tidak ada makna di balik semua ini. Orang jahat tambah kaya dan berkuasa. Sementara, orang baik tetap miskin dan terhina. Absurd.

Ketidakadilan tampak sepanjang mata memandang. Anak kecil tak berdosa mati menggenaskan dihempas tsunami di Aceh, atau terkena bom teroris. Penyakit mematikan menggerogoti tubuh jutaan orang, tanpa ada obat yang bisa melawannya. Namun, ini bukan berarti, bahwa manusia harus menyerah.

Sebaliknya, orang justru harus tegak berdiri, dan menghadapi segala yang terjadi dengan keberanian. Orang harus terus berjuang, walaupun ia sadar, bahwa ia akan kalah. Absurditas kehidupan haruslah dihadapi dengan tekad membara sekeras baja. Bahkan, Camus menyarankan, bahwa kita harus terus berusaha menemukan makna di balik segala absurditas yang kita alami.

Monoteisme

Sikap kepahlawanan ini seolah redup, ketika Eropa dikuasai Kristianitas. Di dalam pandangan Kristiani, penderitaan adalah jalan yang harus ditempuh, supaya orang bisa sampai pada Tuhan. Yesus sendiri, yang dipandang sebagai Tuhan di dalam Kristianitas, juga menderita, disiksa dan bahkan mati terhina di kayu Salib, karena cintanya kepada manusia. Setiap penganut Kristiani diminta untuk menghubungkan penderitaan hidupnya dengan penderitaan Yesus itu sendiri.

Di dalam Islam dan tradisi Yahudi, penderitaan dianggap sebagai tanda cobaan dari Tuhan. Ketika manusia bisa berteguh di dalam segala cobaan, maka ia akan memperoleh pahala dari Tuhan. Penderitaan juga dilihat sebagai ujian atas iman kita terhadap Tuhan. Ketika cobaan dan penderitaan dilampaui, pahala dan kenikmatan surgawi sudah duduk menanti.

Ada yang Lain

Peradaban Eropa adalah peradaban yang berusaha memeluk penderitaan sebagai bagian dari hidup manusia. Mereka melihat penderitaan sebagai bagian penting di dalam proses pengembangan diri manusia. Tidak hanya itu, dalam banyak hal, mereka justru mengundang penderitaan dalam hidup mereka. Sampai sekarang, saya masih tak bisa memahami pandangan ini.

Mungkinkah mereka menderita, karena mereka tak tahu, bahwa ada jalan untuk keluar dari penderitaan hidup manusia? Mungkinkah sikap naif mereka berpijak pada ketidaktahuan? Saya bertanya kembali ke teman saya tersebut, “Mengapa kamu suka menderita? Apakah kamu tidak lelah?” Ia dengan enteng menjawab, “Itulah hidup: so ist das Leben.”

Saya mencoba menjelaskan, bahwa ada cara lain. Ada peradaban lain yang secara mendalam mencoba memahami penderitaan manusia, dan bahkan berhasil menemukan jalan keluarnya. Ia tidak mau dengar. Entah karena pengaruh alkohol, atau memang kita berdua sudah lelah.

Di dalam tradisi filsafat Timur, lebih tepatnya di dalam tradisi Zen yang berkembang di Cina, Jepang dan Korea, penderitaan dilihat sebagai hasil dari ketidaktahuan. Orang menderita, karena ia mengalami kesalahan berpikir. Untuk bisa melampaui kesalahan berpikir semacam ini, orang perlu untuk menyadari, siapa diri mereka sebenarnya. Dan untuk bisa sampai pada kesadaran ini, orang hanya perlu bertanya berulang kali ke diri mereka sendiri, “Darimana asal semua perasaan dan pikiran yang membuat saya menderita ini?”

Pertanyaan ini perlu dipikirkan secara mendalam. Darimana asal semua pikiran dan perasaan yang muncul ini? Jawaban yang biasa muncul adalah “Dari diriku”. Namun, apa atau siapa itu “diri”? Apakah ia sungguh ada? Bagaimana penjelasannya?

Hwadu

Gaya berpikir semacam ini berkembang di dalam tradisi Seon di Korea. Ia disebut sebagai Hwadu, atau kata yang hidup. Sebagai orang yang menekuni filsafat, saya senang merawat pertanyaan-pertanyaan bermutu. Hwadu adalah model yang paling cocok untuk saya.

Ketika pertanyaan tersebut diulang, ia akan menjadi bagian dari hidup kita. Ketika kita berjalan atau bekerja, pertanyaan itu mengulang dengan sendirinya di dalam diri kita. Pertanyaan tersebut menyerap semua pikiran dan perasaan yang muncul. Pada satu titik, jawaban muncul.

Jawaban yang muncul ini bukanlah jawaban teoritis. Ia bukanlah konsep. Ia lebih merupakan sebentuk kesadaran, tempat segala hal muncul dan menghilang. Kesadaran ini adalah diri kita yang sebenarnya. Darinya, segala bentuk pikiran dan perasaan lahir, dan menghilang.

Ketika sampai pada titik ini, (yang sebenarnya bukan titik sama sekali, karena titik adalah konsep), maka orang akan menemukan kejernihan yang sebenarnya. Kejernihan itu berlangsung lama dan stabil. Pikiran dan perasaan bisa datang. Namun, semua itu bisa disadari, dan bahkan bisa digunakan untuk tujuan-tujuan baik.

Tak ada gunanya saya menjelaskan soal ini kepada teman saya. Dia sudah mabuk, dan ia terlalu keras kepala untuk mendengarkan apapun yang bertentangan dengan pandangannya. Satu hal melintas di kepala saya. Mungkin, dia butuh penderitaan yang lebih besar, baru ia mau mendengarkan saya. Mungkin…

Saya hanya bisa berharap dalam hati, “Teman, teruslah menderita!!”

>>https://rumahfilsafat.com/2016/01/16/penderitaan-dan-peradaban/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: